Langsung ke konten utama

Unggulan

Manusia berlari beradu dengan waktu, ada yang sekedar bertahan karena enggan mati, ada yang sedang mencari makna hidup, ada yang sudah menemukan pencariannya, pun ada yang hidup hanya sekedar hidup. Di sudut salah satu kota, seorang gadis muda berusia 25 tahun sedang menata kembali hatinya, semenjak ditinggal pergi oleh sang pujaan hati, laki-laki yang ingin sekali ia baktikan seumur hidupnya. Bukan karena maut, tapi konon karena ketenangan yang tak kunjung laki-laki itu dapatkan dari gadis itu.  Lalu gadis itu berfikir dalam kesedihannya, bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun saling mengenal dan berjanji akan sehidup semati, baru sekarang ia berkata demikian?  Ia tersadar, siapa dia yang punya kuasa untuk menahan orang yang ingin pergi? ia tak punya kekuatan untuk meyakinkan orang yang memang enggan yakin dan ia tak punya kendali atas hati yang ingin berpaling. Lalu sekarang gadis itu kebingungan, masih menimbang-nimbang apa yang terjadi. Ia mencari tenang, ke berbagai tem...

Ia yang hilang


Dari bingkai jendela kamar kecil itu, titik-titik air hujan masih tersisa, mengundang rindu akan mereka yang pernah hadir dalam hidup, lebih-lebih dalam hati.

Langit indah nan pekat, tidak terlihat bintang satu pun, hanya gedung-gedung menjulang tinggi yang memenuhi pandangan. Sesekali suara bising kendaraan terdengar dari jauh, sesekali angin datang menghampiri wajah yang termenung.

Terlintas satu kalimat dalam pikirnya "Perjalanan bukan hanya perihal tujuan akhir, tapi bagaimana dan dengan siapa kita menjalaninya" 

Kalimat itu membuatnya merinding, pada akhirnya titik-titik air mengalir di kelopak matanya, serasa ada yang hilang, serasa ada ruang yang kosong, sepi sekali rasanya. Ah malam begitu kejam bagi mereka yang berusaha sembuh.

Ke mana perginya pribadi yang pernah begitu hidup, utuh dan penuh harap itu? Ke mana lenyapnya rona senyum dari bibir indah gadis manis itu? Ke mana lenyapnya pembawaan karismatik dari seorang perempuan yang penuh percaya diri dan percaya akan mimpi-mimpinya dulu?

Tuhan, jangan renggut cahaya dari gadis itu, biarkan dia terbang bersama mimpi-mimpinya, karena hanya itu satu-satunya yang ia punya, biarkan dia  menjelajahi samudra dengan bekal semangat dan harapannya, dan semoga dalam perjalanan panjangnya, kau pertemukan dengan seseorang yang mampu mengusap air matanya, membasuh lukanya, menguatkan mimpinya, menyambung langkahnya, menggenggam erat jemarinya dan membimbingnya agar selalu kembali kepada-Mu.

Malam menjadi teman yang menemani proses belajarnya, belajar mengikhlaskan, belajar untuk tidak menggelisahkan takdir. Bahwa yang baik, akan dipertemukan dengan yang baik juga. Janji-Mu~

Bandung, 2 Mei 2026

Komentar

Postingan Populer