Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Bandung dan Kesunyian
Tempat bagiku bukanlah tempat itu sendiri. Melainkan orang-orang di dalamnya dan semua rasa yang tercipta karenanya.
Dua bulan sudah ragaku bermukim di Bandung, semoga hatiku juga. Kota kembang yang kudatangi dua tahun silam.
Rasa memang tak bisa bohong, ia akan katakan tidak jika ia merasa tidak, begitu pun sebaliknya. Berbeda dengan apa yang kita lihat di postingan-postingan medsos, suasana akan terbentuk dengan tambahan backsound, cara mengambil photo, dan ekspresi wajah kita dalam photo. Seolah semua terasa indah dan menyenangkan. Tapi tak banyak yang bisa dikenang, bahkan untuk menceritakan kembali kita tak berselera. Rasa membentuk momentum.
Rasanya hampa, di sini, di Bandung, aku belum menemukan satu orang pun yang bisa kuajak diskusi buku, penulisan, sastra. Rasanya kosong, semua keistimewaan Bandung hilang bersama kosongnya hatiku.
Aku sudah berusaha, mengontak sana sini, mencari informasi di google, YouTube dan semua hal yang bisa kujangkau. Aku seperti mayat hidup rasanya. Aku tak bergairah kemana-mana, aku sungguh benci keadaanku yang sekarang.
Kata orang, kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang sehoby, sevisi, tapi aku belum menemukan itu di Bandung.
Aku menyadari, bahwa komunitas itu penting sekali. Memiliki teman yang sevisi itu melebihi apa pun yang kau punya, karena mereka akan membangkitkan gairah belajar, membuat hari-hari penuh tantangan dan warna indah. Seolah hatimu adalah wadah tempat pelangi itu bersarang.
Aku mungkin akan membandingkan semua hal dalam hidupku dengan pengalaman sederhanaku di kota Yogyakarta. Kota yang membuatku jatuh cinta sedalam-dalamnya. Orang-orang di dalamnya, ceritanya, suasana hatiku, atmosfer, dan semua yang kudapatkan di sana membuatku seperti mimpi. Aku seperti sedang bermimpi dari saking indahnya. Sederhana, tak lama, tapi sangat membekas, sangat membekas.
Tuhan membuatku melihat Jogja bukan hanya dengan mata, tapi dengan hati. Ah aku cengeng sekali. Semenjak aku meninggalkan Jogja, tiada hari tanpa merindu dengannya.
Menulis adalah salah satu cara agar aku tetap dekat dengannya, menjadi ruang kecil agar aku bisa tetap terhubung dengannya. Bagiku, menceritakan keindahannya adalah obat bagi hatiku yang merindu.
Aku sadar, aku tak boleh begini terus, dua tahun di Bandung tak boleh hanya berkutat pada kampus, kos, kampus, kos. Aku capek hidup tanpa rasa. Aku ingin menempatkan Bandung sejajar dengan Jogja bahkan lebih, aku hanya belum menemukannya saja.
Aku tak putus asa, karena orang akan dipertemukan dengan apa yang ia cari, selama ia mencarinya. Aku percaya itu dan aku sangat percaya.
Aku ingat dengan apa yang disampaikan temanku ketika di Jogja, semua orang bisa, selama ia mau. Jadi pilihlah, mau atau tidak?
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar