Unggulan

Manusia berlari beradu dengan waktu, ada yang sekedar bertahan karena enggan mati, ada yang sedang mencari makna hidup, ada yang sudah menemukan pencariannya, pun ada yang hidup hanya sekedar hidup.

Di sudut salah satu kota, seorang gadis muda berusia 25 tahun sedang menata kembali hatinya, semenjak ditinggal pergi oleh sang pujaan hati, laki-laki yang ingin sekali ia baktikan seumur hidupnya. Bukan karena maut, tapi konon karena ketenangan yang tak kunjung laki-laki itu dapatkan dari gadis itu. 

Lalu gadis itu berfikir dalam kesedihannya, bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun saling mengenal dan berjanji akan sehidup semati, baru sekarang ia berkata demikian? 

Ia tersadar, siapa dia yang punya kuasa untuk menahan orang yang ingin pergi? ia tak punya kekuatan untuk meyakinkan orang yang memang enggan yakin dan ia tak punya kendali atas hati yang ingin berpaling.

Lalu sekarang gadis itu kebingungan, masih menimbang-nimbang apa yang terjadi. Ia mencari tenang, ke berbagai tempat, ke kota-kota yang pernah menggoreskan kenangan yang mendalam akan kisah cinta yang tak sampai itu, bukan kembali untuk mengenang, tapi untuk berobat, belajar sembuh, melupakan dan berjanji pada diri agar kuat menerima segala takdir.

Tapi anehnya ia tak menemukan ketenangan itu, hatinya semakin teriris melihat jalanan kota, lampu jalan dan beberapa kursi yang terjejer, semua masih terlihat sama, hanya saja satu yang berbeda, kenyataan bahwa laki-laki itu telah memilih pergi, entah ada gadis lain yang ia tuju atau bagaimana, dan sekarang ia dengan sedikit kekuatan yang tersisa harus mengubur mimpi itu dalam-dalam, mimpi yang pernah mereka bangun bersama ketika melewati jalanan kota itu. Dan air matanya semakin deras oleh karena pedihnya kenyataan yang harus ia telan dalam-dalam.

Langkahnya menuju sebuah kursi besi di bawah pohon asam Jawa, ia merebahkan sedikit dirinya, menyandarkan bahunya, melihat sekeliling, menikmati udara malam kota dan mengangkat pandangannya ke langit. Dalam hati ia berdoa, berharap diberi keterangan, kedamaian dan keikhlasan yang paling dalam. Malam pun memeluknya, hatinya seketika terasa lebih hangat.

Keesokan harinya ia bangun dengan perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, semacam perasaan lega, bebas, ringan, seolah semua kemelekatan duniawi hilang bersama hadirnya ketenangan hati. Senyuman yang sudah lama hilang, akhirnya kembali bermukim di bibir mungilnya. Jawaban atas doa-doa panjangnya.

Semoga dengan ikhlasnya ia melepas, Allah karuniakan seorang laki-laki berhati baik yang tak akan lagi melepas dan meninggalkan sendiri, selamanya.

Kisah gadis manis berambut lurus bermata sipit di sudut kota~ 

Komentar

Postingan Populer