Langsung ke konten utama

Unggulan

Manusia berlari beradu dengan waktu, ada yang sekedar bertahan karena enggan mati, ada yang sedang mencari makna hidup, ada yang sudah menemukan pencariannya, pun ada yang hidup hanya sekedar hidup. Di sudut salah satu kota, seorang gadis muda berusia 25 tahun sedang menata kembali hatinya, semenjak ditinggal pergi oleh sang pujaan hati, laki-laki yang ingin sekali ia baktikan seumur hidupnya. Bukan karena maut, tapi konon karena ketenangan yang tak kunjung laki-laki itu dapatkan dari gadis itu.  Lalu gadis itu berfikir dalam kesedihannya, bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun saling mengenal dan berjanji akan sehidup semati, baru sekarang ia berkata demikian?  Ia tersadar, siapa dia yang punya kuasa untuk menahan orang yang ingin pergi? ia tak punya kekuatan untuk meyakinkan orang yang memang enggan yakin dan ia tak punya kendali atas hati yang ingin berpaling. Lalu sekarang gadis itu kebingungan, masih menimbang-nimbang apa yang terjadi. Ia mencari tenang, ke berbagai tem...

Pengingat Diri

Innalilahi wa innailaihirojiun 

Dan pada akhirnya, kita hanyalah kenangan baik atau buruk di mata orang-orang yang mengenal kita.

Lantas, sebelum kematian itu tiba, kita mau dikenal sebagai sosok yang bagaimana?

kita bisa melihat, bagaimana seseorang ketika meninggal dunia, ribuan manusia mendoakannya, tak lain itu adalah buah dari apa yang ia lakukan selama di dunia. Jadi tidak ada alasan untuk tidak menjadi orang baik.

Di mana pun itu, di rumah, masyarakat, tempat kerja, tempat kuliah, tempat rantauan. Apa susahnya berlaku baik? Kita nggak harus menyukai semua orang, karena jiwa manusia itu akan cenderung kepada yang mirip dengan kepribadian mereka. Tapi cukup menghargai, berlaku baik, bertutur kata yang baik kepada sesama manusia.

Sebagaimana kita, tak pernah bersenang hati atau merasa nyaman dengan perlakuan maupun perkataan buruk orang lain ke diri kita, begitupun yang orang lain rasakan ketika kita berlaku buruk kepada mereka.

Lagian apa sih yang di cari dari melakukan perbuatan atau berkata yang berpotensi menyakiti hati manusia? Kepuasan? Pengakuan? Supaya dianggap superior? Ya Allah sesungguhnya doa orang yang terzolimi itu benar-benar menembus langit.

Kita tidak pernah tau hati seseorang, dan kita tidak pernah tau takdir. Orang yang mungkin kita remehkan atau kita zolimi, suatu saat nanti mungkin orang yang akan sangat kita butuhkan bantuannya. Jadi apa alasan untuk tidak menjadi manusia yang memanusiakan manusia?

Mari, kalau tak mampu berbuat baik, setidaknya kita jangan sampai menyakiti. Hidup yang hanya sekali ini, sia-sia sekali rasanya jika harus memelihara kebencian.

Ya muqollibalqullub tsabbickolbi aladiniq 

Komentar

Postingan Populer