Langsung ke konten utama

Unggulan

Manusia berlari beradu dengan waktu, ada yang sekedar bertahan karena enggan mati, ada yang sedang mencari makna hidup, ada yang sudah menemukan pencariannya, pun ada yang hidup hanya sekedar hidup. Di sudut salah satu kota, seorang gadis muda berusia 25 tahun sedang menata kembali hatinya, semenjak ditinggal pergi oleh sang pujaan hati, laki-laki yang ingin sekali ia baktikan seumur hidupnya. Bukan karena maut, tapi konon karena ketenangan yang tak kunjung laki-laki itu dapatkan dari gadis itu.  Lalu gadis itu berfikir dalam kesedihannya, bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun saling mengenal dan berjanji akan sehidup semati, baru sekarang ia berkata demikian?  Ia tersadar, siapa dia yang punya kuasa untuk menahan orang yang ingin pergi? ia tak punya kekuatan untuk meyakinkan orang yang memang enggan yakin dan ia tak punya kendali atas hati yang ingin berpaling. Lalu sekarang gadis itu kebingungan, masih menimbang-nimbang apa yang terjadi. Ia mencari tenang, ke berbagai tem...

Kebanggaan


Setiap orang punya kebanggaannya tersendiri, entah itu ke pasangannya, keluarganya, atau bahkan dirinya sendiri. Kebanggaan terhadap diri sendiri ini bisa berupa tampang, tingkat pendidikan, kekayaan, karya yang dihasilkan dan relasi yang membanggakan. Itu semua adalah aset yang dimiliki seorang manusia untuk bisa tetap eksis hidup di tengah masyarakat.

Bagiku, seorang perempuan muda berusia 25 tahun, yang sedang mengejar mimpi-mimpi, yang masih ingin bebas menjelajah, mengekspresikan diri lewat berbagai cara, perempuan yang sedang mendalami jati dirinya, percaya bahwa kebanggaan terbesar bagiku adalah punya daya juang yang kuat, punya harapan dan mimpi-mimpi yang akan kukejar, dan punya keinginan untuk berbagi tentang perjalanan dan pengalaman hidup lewat bait- bait sederhana, yang semoga cerita dan hikmahnya abadi, yang semoga menjadi api semangat bagi mereka yang mulai redup dan kehilangan semangat hidupnya.

Tidak perlu membandingkan antara dirimu dan orang lain. Kalian wajib merayakan apa yang menjadi kebanggaanmu masing-masing. Hanya saja mungkin ukuran yang dipakai masyarakat belum mampu melihat bagaimana esensi dari kebanggaan masing-masing itu punya bagian dan manfaat yang saling melengkapi satu sama lain. Seperti halnya potongan puzzle, ada yang mengisi di tengah, samping kiri, kanan, dengan bentuk, warna dan keunikannya masing-masing.

Pertanyaan pentingnya adalah, apakah standar itu penting? Bagi mereka yang merdeka, standar itu sama sekali hal remeh temeh. Betul kata orang, semakin Jomblang penilaian seseorang terhadap suatu profesi, pekerjaan, posisi, kontribusi, maka dapat dipastikan bahwa dia yang menilai itu adalah manusia yang belum sepenuhnya merdeka, manusia yang belum bisa memandang kehidupan dengan bijaksana.

Tapi kita memang tak pernah luput dari penilaian itu, tak apa, yang kita perlukan adalah mencintai pekerjaan kita, meluruskan niat, dan memberi beberapa apresiasi untuk diri. Rayakan apa yang sedang kamu jalani, rayakan apa yang sudah kamu dapat dan berbanggalah dengan apa yang bisa kamu banggakan.

Bukan kah pada akhirnya, kita semua akan dinilai berdasarkan niat kita? Di mata manusia profesi maupun pekerjaan kita bisa rendah, atau bahkan tak pernah dipandang. Tapi di hadapan Tuhan, ia menjadi sebab Rahmat dan ampunannya. Anugerah tertinggi yang didapat oleh seorang hamba.

Ya muqollibalqullub tsabbickolbi aladiniq 

Komentar

Postingan Populer