Langsung ke konten utama

Unggulan

Manusia berlari beradu dengan waktu, ada yang sekedar bertahan karena enggan mati, ada yang sedang mencari makna hidup, ada yang sudah menemukan pencariannya, pun ada yang hidup hanya sekedar hidup. Di sudut salah satu kota, seorang gadis muda berusia 25 tahun sedang menata kembali hatinya, semenjak ditinggal pergi oleh sang pujaan hati, laki-laki yang ingin sekali ia baktikan seumur hidupnya. Bukan karena maut, tapi konon karena ketenangan yang tak kunjung laki-laki itu dapatkan dari gadis itu.  Lalu gadis itu berfikir dalam kesedihannya, bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun saling mengenal dan berjanji akan sehidup semati, baru sekarang ia berkata demikian?  Ia tersadar, siapa dia yang punya kuasa untuk menahan orang yang ingin pergi? ia tak punya kekuatan untuk meyakinkan orang yang memang enggan yakin dan ia tak punya kendali atas hati yang ingin berpaling. Lalu sekarang gadis itu kebingungan, masih menimbang-nimbang apa yang terjadi. Ia mencari tenang, ke berbagai tem...

DIAM


Lebih baik diam jika kata hanya sekedar kata

Tidak perlu sibuk mengumumkan pada dunia bahwa kau Cinta

Tak perlu membuang banyak energi untuk berteriak bahwa kau menginginkannya

Tak perlu habiskan kertas dan tintamu itu hanya karena kau ingin menyampaikan rasa

Cukup kau buktikan dan kristalisasi apa yang engkau rasa dengan pembuktian

Pembuktian yang tak harus berisik, karena dengan begitu kau tak akan mengecewakan

Pembuktian dengan tindakan, sederhana tapi justru dengan kesederhanaan itu semua rasa sampai kepada hati

Kesederhanaan yang membuat jiwa bergetar, merangkai cerita dengan kesungguhan cinta

Kesederhanaan yang melahirkan tenang, menjadi sebab kokohnya perasaan dihati masing-masing

Terlalu berisik jika hanya mengoceh tanpa pembuktian

Terlalu berisik jika ribuan kata tersampai tapi tidak dengan pengorbanan

Karena cinta akan sampai jika kata dirangkai dengan pembuktian dan pengorbanan

Lagi-lagi keraguan itu hadir bahkan sampai memenuhi jiwa

Bagaimana jika sejauh ini bukan cinta yang melandasi? bagaimana bisa diri ini menggadaikan cita-cita terbesar hanya karena seseorang yang hanya pandai berkata-kata

Bagaimana bisa raga dan hati ini aku abdikan selamanya untuk ia yang bahkan tak selaras antara kata dan tindakannya?

Tuan, ketahuilah bahwa Tuan Putri mu ini tak butuh banyak kata, sampaikanlah bahasa cintamu itu dengan pembuktian, biarlah ia tersampaikan secara alami dan mendalam, tanpa harus dibuat-buat.

Komentar

Postingan Populer