Langsung ke konten utama

Unggulan

Manusia berlari beradu dengan waktu, ada yang sekedar bertahan karena enggan mati, ada yang sedang mencari makna hidup, ada yang sudah menemukan pencariannya, pun ada yang hidup hanya sekedar hidup. Di sudut salah satu kota, seorang gadis muda berusia 25 tahun sedang menata kembali hatinya, semenjak ditinggal pergi oleh sang pujaan hati, laki-laki yang ingin sekali ia baktikan seumur hidupnya. Bukan karena maut, tapi konon karena ketenangan yang tak kunjung laki-laki itu dapatkan dari gadis itu.  Lalu gadis itu berfikir dalam kesedihannya, bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun saling mengenal dan berjanji akan sehidup semati, baru sekarang ia berkata demikian?  Ia tersadar, siapa dia yang punya kuasa untuk menahan orang yang ingin pergi? ia tak punya kekuatan untuk meyakinkan orang yang memang enggan yakin dan ia tak punya kendali atas hati yang ingin berpaling. Lalu sekarang gadis itu kebingungan, masih menimbang-nimbang apa yang terjadi. Ia mencari tenang, ke berbagai tem...

BERKISAH


Hari ini kembali diberikan kepercayaan mewakili Ustadz ustadzah saya di Laznas Dewan Dakwah NTB menyampaikan Quantum di SMAN 5 Mataram, setelah sembilan bulan disibukkan dengan rutinitas baru menjadi Accounting internal di sebuah perusahaan.

Satu pelajaran penting yang bisa saya petik lewat momentum ini, bahwa hidup secure saja ternyata kurang menantang bagi pribadi saya yang selalu ingin mencoba hal-hal baru.

Kadang beberapa part harus kita biasakan insecure (rasa tidak aman) guna menjadi cambuk semangat dalam proses penempaan diri.

Melihat adanya pergeseran makna relasi laki-laki dan perempuan hari ini, menggelitik saya untuk menyampaikan tentang bagaimana sosok Bunda Khodijah dalam menempatkan dirinya sebagai seorang hamba, istri dan ibu.

Hebatnya sosok Khadijah dengan kemuliaannya, statusnya, hartanya, keturunannya tidak menyilaukan nya untuk menuntut kesetaraan dengan laki-laki. Namun keimanan dan keserasian peranlah yang menjadi kunci perbaikan dan kedamaian hidup.

Dikisahkan dalam Sirah Nabawiyah ketika Rosulullah pulang dari dakwahnya, beliau pulang kerumahnya dan merebahkan dirinya di pangkuan bunda Khodijah.

Bunda khodijah yang selalu menjadi best support sistem perjuangan nabi pun mengelus kepala nabi dengan penuh kasih sayang, tak terasa air matanya pun menetes dan mengenai wajah rosulullah. rosulullah pun terbangun dan bertanya kepada istrinya, wahai istriku, mengapa engkau menangis? apakah engkau menyesal bersuamikan aku Muhammad? tanya rosululllah dengan lembut.

Istriku, dahulu engkau adalah wanita yang mulia, bangsawan dan engkau hartawan. Namun hari ini engkau dicaci orang, dijauhi orang bahkan seluruh harta mu sudah habis. Adakah engkau menyesal wahai khadijah bersuamikan aku muhammad? 

kemudian apa jawaban bunda khadijah, perempuan agung ini menjawab "wahai suami ku, wahai rosul Allah. bukan itu yang ku tangisi. 

Dulu aku memilki kemuliaan, dulu aku adalah keturunan bangsawan, dulu aku banyak harta, namun semua itu aku serahkan untuk Allah dan Rosulnya.

Wahai rosulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi, tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini, engkau masih berdakwah. Sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, ketika engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, engkau hendak menyeberangi sungai, namun engkau tidak memperoleh rakit pun atau pun jembatan.

“Maka galilah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku. Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyebrangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu. Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam wahai Rasulullah.” kata Khadijah.

Pelajar penting dari kisah ini adalah tentang memaksimalkan peran, tentu peran yang pertama adalah peran sebagai hamba, kemudian anak, istri dan ibu.

Masyaa Allah, semoga kita bisa meneladani akhlak luhur bunda Khadijah r.a

Komentar

Postingan Populer