Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
S.O.M.B.O.N.G
_Berbahan baku tanah, makan dari hasil tanah dan akan kembali menyatu dengan tanah. Lantas, mengapa kita bersifat langit?_
Pada awal tulisan ini saya ingin mengutip hadis Nabi dari Ibnu Mas'ud raḍiyallāhu 'anhu bahwa Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,
"Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sifat sombong walaupun sebesar biji sawi."
Sombong ialah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia, begitulah sabda Rosulullah.
Manusia terbaik dengan perangai yang paling sempurna, akhlaknya paling mulia, teladan menyejuk jiwa, sang motivator terbaik sepanjang zaman.
Semoga Allah karuniakan akhlak kita, keluarga kita dan anak-anak kita nanti seperti halnya Rosulullah SAW.
Manusia, sang khalifah di Bumi Allah. Diberikan amanah besar karena dibekali dengan akal pikiran. Itulah yang membedakan kita dengan makhluk hidup lain.
Kita yang bersifat langit padahal langit memandang kita sama-sama rendah. Yah sangat rendah
Terbuat dari bahan baku tanah namun bersifat langit, itulah manusia.
Mengagungkan kehebatan, kecantikan, kepintaran, jabatan, harta dan tahta kepada sebagian yang lain. Mereka lupa bahwa apa yang mereka banggakan tiada lain hanya ujian, semata-mata hanya ujian.
Melihat dengan sangat rendah orang lain, apakah tidak cukup menjadi Manusia yang memanusiakan?
Apakah engkau sanggup memaksimalkan hal yang engkau anggap hebat itu sebagai media untuk memaksimalkan ibadah mu kepada Allah?
Hari ini, harta dan tahta seolah-olah menjadi pembeda strata seseorang. Sungguh miris
Apakah engkau lupa? Jika Fir'aun binasa karena kesombongan, karena keangkuhannya.
Sungguh, tidak akan masuk syurga manusia yang terdapat kesombongan dalam hatinya walau sebesar biji sawu pun.
Teguran itu nyata, begitu nyata dan sangat familiar ditelinga kita. Tapi seolah-olah kita menutup mata dan telingan dari ayat-ayat Allah.
Kita terlena dengan gemerlap kenikmatan yang di suguhkan dunia, kita menggadaikan akhirat kita demi dunia yang tak lebih dari setetes air ditengah luas dan dalamnya lautan.
Atau bahkan kita sudah lupa, bahwa kita tak lebih dari seorang hamba, yang takaran posisi kita dihadapan Allah hanya amal yang menjadi pembeda?
Bukan harta mu, bukan hebat mu, bukan jabatan dan bukan kecantikan mu.
Mereka yang berilmu akan paham, kemana seharusnya keistimewaan mereka akan diarahkan,
Orang diberi kesempatan dan hebat dalam hal menulis, maka bukunya-bukunya diniatkan untuk mencerdaskan generasi lewat literasi.
Orang pintar berbisnis, kaya raya, maka hartanya ia gunakan untuk menolong agama Allah.
Orang yang diberikan keistimewaan mampu memikat hati orang lain dengan untaian kata dari mulutnya, ai gunakan untuk menyampaikan risalah cinta Allah.
Orang yang bahkan tidak punya mata, memaksimalkan kekuatan otak untuk menghafal Alquran, tujuan kita satu, meraih ridho ilahi.
Demi Allah, dunia begitu menipu, gadgetnya, pertemanannya, semua begitu indah terlihat.
Namun sejatinya tak lebih dari pisau dapur yang siap mencabit kita perlahan demi perlahan, menyita waktu kita yang seharusnya bermesraan dengan Al-Qur'an.
Saya Peribadi sangat takjuk melihat mereka yang dengan segala privilage nya tidak sedikitpun terlena dan lupa diri.
Memaksimalkan nya sehingga orientasi utama mereka adalah ridho Allah.
Ya Allah, ampunilah kami yang melampau batas ini.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar