Langsung ke konten utama

Unggulan

Manusia berlari beradu dengan waktu, ada yang sekedar bertahan karena enggan mati, ada yang sedang mencari makna hidup, ada yang sudah menemukan pencariannya, pun ada yang hidup hanya sekedar hidup. Di sudut salah satu kota, seorang gadis muda berusia 25 tahun sedang menata kembali hatinya, semenjak ditinggal pergi oleh sang pujaan hati, laki-laki yang ingin sekali ia baktikan seumur hidupnya. Bukan karena maut, tapi konon karena ketenangan yang tak kunjung laki-laki itu dapatkan dari gadis itu.  Lalu gadis itu berfikir dalam kesedihannya, bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun saling mengenal dan berjanji akan sehidup semati, baru sekarang ia berkata demikian?  Ia tersadar, siapa dia yang punya kuasa untuk menahan orang yang ingin pergi? ia tak punya kekuatan untuk meyakinkan orang yang memang enggan yakin dan ia tak punya kendali atas hati yang ingin berpaling. Lalu sekarang gadis itu kebingungan, masih menimbang-nimbang apa yang terjadi. Ia mencari tenang, ke berbagai tem...

Merawat Akal Sehat


Manusia adalah makhluk istimewa yang diciptakan Tuhan. Anugerah yang membedakan kita dengan makhluk lain adalah anugerah akal. Kita diberi keistimewaan berupa akal pikiran sehingga diamanahkan menjadi Khalifah di Bumi Allah.

Namun pengaruh lingkungan, rumitnya hidup, kebiasaan yang buruk, pikiran yang kerdil telah memudarkan keyakinan dalam diri, bahwa ia punya potensi dahsyat yang bisa menghebatkan masa depannya.

Tulisan ini saya sampaikan dengan perspektif saya peribadi dan hasil renungan bersama beberapa orang sahabat.

Kami sepakat bahwa bagi sebagian orang, media sosial menjadi sumber penghasilan, mesin pencetak uang dan alat menghibur diri. 

Namun sebagiannya lagi justru menjadi obat sekaligus racun yang begitu candu untuk dinikmati. Pisau dapur yang sesakali melukai.

Anak panah yang salah bidikan akhirnya meleset dan membunuh masa depan pemiliknya.

Api yang menghangatkan dan sesekali membakar hangus mimpi-mimpi yang dicitakan.

Bagi mereka yang merugi, waktu, pikiran, tenaga, materi, tanpa disadari terus dikuras oleh alat yang bernama gatget ini.

Kamu termasuk yang mana? Apakah golongan orang yang beruntung atau merugi? Jawab jujur yah

Dari saya Peribadi, untuk kalian yang sedang bertumbuh, mulailah mengontrol penggunaan gatget yang berlebihan tanpa tujuan yang jelas, isi waktu luang dengan banyak membaca. Sungguh media sosial itu ibarat magnet yang menarik mu perlahan demi perlahan kedalam jurang kemalasan dan buruknya kebiasaan menunda-nunda.

Stop scroll media sosial media tanpa tujuan, massa mau jadi generasi penonton dan pemantau aja?

Massa anugerah umur yang sangat mahal dan terbatas ini harus habis dengan habit buruk terus?

Kamu sadar nggak, hidup itu berarti bagi mereka yang memberinya arti dan hidup itu sia-sia bagi mereka yang menyia-nyiakan nya.

Disaat orang diluar sana sudah berlari jauh, kamu masih saja merangkak.

Disaat orang-orang menjadi pemain, kamu hanya melakoni peran sebagai penonton, dan sesekali bertepuk tangan atas pencapaian orang.

Disaat yang lain sudah keluar dari habit buruknya, kamu masih nyaman bahkan enggan untuk beranjak.

Mau jadi apa? Pecundang atau pemenang?

Kita terlalu kerdil dengan pikiran kerdil kita. Pikiran yang seharusnya tidak dipikirkan oleh makhluk yang bernama manusia.

Makhluk agung pemimpin semua makhluk di bumi.

Mental kita sangat rendah, sehingga kita hanya mampu melakukan hal-hal kecil dan remeh.

Kerja-kerja besar dimulai dari mimpi-mimpi besar. Orang-orang hebat tidak lahir dari kebiasaan-kebiasaan biasa. 

Ungkap seorang sahabat kepada saya, fah tanpa mimpi dan harapan orang-orang seperti kita tidak ada harganya, kita akan lenyap ditelan waktu dan zaman. Saya tertampar...

Seketika semangat itu tumbuh, saya teringat oleh nasehat Imam Syafi'i yang begitu related dengan apa yang saya rasakan sekarang. Katanya, air menjadi keruh karena diam tertahan. Singa jika tak tinggalkan sarangnya, maka tak akan mendapat mangsa. Anak panah jika tak tinggalkan busurnya, tak akan kena sasaran.

Begitupun kita hari ini, jika tak segera beranjak dari kebiasaan buruk itu, maka sama halnya dengan air yang keruh disebabkan diam tergenang.

Jika kita tidak segera beranjak, lantas bagaimana bisa mendapatkan mangsa layaknya singa yang tinggalkan sarangnya?

Percayalah, apa yang kita pikirkan akan menjadi kenyataan. Apa yang kita ucapkan akan kau capai. Hidup yang dipertaruhkan maka akan dimenangkan

Allahuakbar

Komentar

Postingan Populer