Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Buah Dari Maksiat itu Bernama Gelisah
Dihargai dan dilindungi sebagai seorang perempuan itu rasanya tak terdefinisi. Hanya orang-orang pilihan yang mampu untuk itu.
Hanya saja, saya belum menemukan nya selain pada sosok ayah dan saudara kandung sendiri.
Sebaik-baiknya penjagaan tetap akan goyah ketika tidak dengan support sistem yang baik pula. Itulah pentingnya kita bersama dengan orang dan lingkungan yang paham.
Setiap kemaksiatan lekat dengan ketidaktenangan. Itu fitrah dan siapapun tanpa terkecuali akan merasakan.
Tidak ada kemaksiatan yang tidak membekas, apapun bentuknya pasti akan kau tuai buah dari kemaksiatan mu hari ini.
Tapi itu tidak berlaku untuk mereka yang menyegerakan bertaubat. Tanda datangnya rahmat Allah ketika engkau gelisah setelah bermaksiat.
Kita manusia, khilaf itu hal yang wajar. Tak ada manusia yang tak berdosa, semua pernah salah dan Allah maha pengampun.
Tugas kita hanya terus berdoa dan bertaubat, sampai Allah mengambil nyawa kita dalam keadaan kita sedang bertaubat.
Dalam proses perbaikan diri, salah satu nikmat yang jika kita tukar dengan apapun, tak akan mampu menyeimbangi nilainya. Nikmat sebagai bekal dalam melewati ombak kehidupan yang fluktuatif.
Alhamdulillah.. Alhamdulillahi 'ala ni'matil iman..
Alhamdulillahi 'ala ni'matil islam..
Alhamdulillahi 'ala nimatil hidayah..
Alhamdulillahi 'ala ni'matil taubah..
Alhamdulillahi 'ala ni'matil hij'rah..
Alhamdulillahi.. Alhamdulillahi 'ala ni'matil ukhuwah..
Setiap dari kita bertugas mengemban amanah untuk menyampaikan kalimat Allah kepada manusia.
Tapi bukan sembarang orang, Allah langsunglah yang akan melihat dan memilah, hambanya mana yang sudah pantas untuk amanah mulia itu.
Dalam kehidupan dunia yang fana dan penuh dengan hura-hura ini, akan sangat berat jika kita tidak berguru.
Ringannya langkah kaki kita menuju taman-taman syurga sejatinya adalah bentuk dari hidayah Allah SWT yang harus kita syukuri.
Pertanyaannya, apakah kita mau menyambut hidayah itu? Atau justru kita menolaknya sehingga hidayah itu tidak menetap dalam hati kita.
Jangan kau bermimpi mendapat hidayah dalam keadaan bermalas-malasan, karena hidayah dijemput bukan ditunggu.
Bergeraklah, datangi majelis-majelis ilmu agar kau sadar bahwa tujuan hidup ini hanya satu, mengesakan Allah SWT.
Apa yang kita capai hari ini tidak lain karena pertolongan Allah. Entah itu jabatan, harta, tahta, dan nikmat dunia yang lain. Maka jangan sekali-kali engkau sombong.
Karena orang yang sudah pasti bangkrut kata Allah adalah mereka yang sombong, yang membanggakan diri, yang menyatakan bahwa apa yang ia capai hari ini berkas dari ilmu dan kepintaran nya. Kisahnya ada dalam Q.s Al-Qossos ayat 76-80.
Untuk kita yang masih merasa kekurangan harta, bersabarlah sampai Allah memantaskan kita. Dan berikhtiar sehingga Allah memilih kita.
Bisa jadi Allah belum mengabulkan permohonan kita karena Allah melihat kita belum pantas, maka pantaskan diri dengan memperbaiki hubungan dengan Allah.
Jangan sibuk menyalahkan orang lain atas musibah dan kesusahan yang menimpa kita, berkacalah pada rosulullah, sahabat-sahabat rosul dan orang-orang sholeh dimasanya. Seperti kisah nabi Yunus, beliau sabar dan berdoa memohon ampunan kepada Allah atas apa yang menimpanya, dimakan oleh ikan paus, hidup di perut ikan yang begitu gelas. Gelapnya berlipat-lipat, mulai ditengah perut ikan, ditengah lautan dan ditengah malam yang gelap gulita.
Setiap dari kita diciptakan dengan potensi masing-masing, dengan keunikan yang tidak ada pada diri orang lain. Kita sangat istimewa
Allah ciptakan potensi atau kecondongan berbeda-beda agar kita bisa saling melengkapi bukan malah menyombongkan diri atau malah megutuk diri karena standarisasi yang dibuat manusia.
Sebagai contoh, petani dengan pejabat. Perbedaan itu hanya diciptakan manusia, yang benar adalah kita sama-sama manusia yang sedang mencari dan berjuang di bumi Allah dengan peran dan potensi kita masing-masing. Jadi tak perlu malu hanya karena rendah dihadapan manusia. Itu hanya ilusi yang tercipta dari kebudayaan manusia
Saya mendapati kalimat indah yang keluar dari lisan seorang yang mungkin kebanyakan orang melihatnya orang biasa.
Dia menyampaikan kepada ustadz yang sering menjadi imam, guru ngaji pada mesjid di komplek rumahnya " ustadz, saya tidak bisa mengajar ngajari, menjadi imam, berceramah seperti ustadz, tapi saya hanya bisa menanam bunga dan tumbuhan² ini, semoga dengan ini bisa dimanfaatkan oleh banyak orang"
Sangat dalam maknanya, beliau tau apa yang harus beliau kerjakan ditengah keterbatasan ilmu yang beliau miliki, semoga kita senantiasa didekatkan dengan orang² baik.
Pada akhirnya kita sadar, bahwa harta, tahta, ilmu, jabatan, anak, suami dan semua yang kita miliki didunia ini hanyalah alat yang seharusnya bisa kita maksimalkan untuk menolong agama Allah, untuk mendekatkan kita kepada Robb kita dan untuk meraih ridhonya.
Irilah kepada mereka yang dengan keberlimpahan harta lantas tidak membuat mereka menjadi sombong.
Irilah kepada para ulama-ulama yang dengan ilmunya ia berdakwah
Irilah kepada mereka yang dengan keterbatasan hartanya mampu terus Istiqomah melakukan kebaikan dan bersedekah
Irilah pada mereka yang selalu menjaga lisan, laku dan perangainya untuk menjaga hati saudara dan orang-orang didekatnya.
Dan irilah pada pelaku maksiat yang menyegerakan untuk bertaubat.
Maha besar Allah yang menjaga aib-aib kita Allahuakbar
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar