Langsung ke konten utama

Unggulan

Manusia berlari beradu dengan waktu, ada yang sekedar bertahan karena enggan mati, ada yang sedang mencari makna hidup, ada yang sudah menemukan pencariannya, pun ada yang hidup hanya sekedar hidup. Di sudut salah satu kota, seorang gadis muda berusia 25 tahun sedang menata kembali hatinya, semenjak ditinggal pergi oleh sang pujaan hati, laki-laki yang ingin sekali ia baktikan seumur hidupnya. Bukan karena maut, tapi konon karena ketenangan yang tak kunjung laki-laki itu dapatkan dari gadis itu.  Lalu gadis itu berfikir dalam kesedihannya, bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun saling mengenal dan berjanji akan sehidup semati, baru sekarang ia berkata demikian?  Ia tersadar, siapa dia yang punya kuasa untuk menahan orang yang ingin pergi? ia tak punya kekuatan untuk meyakinkan orang yang memang enggan yakin dan ia tak punya kendali atas hati yang ingin berpaling. Lalu sekarang gadis itu kebingungan, masih menimbang-nimbang apa yang terjadi. Ia mencari tenang, ke berbagai tem...

Hidup itu Berat Jika Orientasinya Bukan Akhirat

                         Oleh : Surya Arafah

Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui. (QS. Al-Ankabbut : 64)

Sebelum mengetahui dan meyakini akan kenikmatan yang dijanjikan-Nya kelak, seringkali kita berpikir bahwa hidup ini sangat melelahkan. Bahwa hidup ini tidak ada artinya. Bahwa hidup ini hanya tentang kesengsaraan. Bahwa hidup ini adalah ujian dan memang hidup ini adalah ujian.

Setiap orang tentu punya kepentingannya masing-masing, padahal ada banyak sekali hal yang dapat kita lihat di dunia ini sebagai bahan renungan. Misalnya matahari pagi yang sinarnya menghangatkan tubuh atau pemandangan yang membuat kita banyak merenung akan arti kehidupan yang sesungguhnya.

Dalam keseharian, kita sering menemui beragam orang dengan aktivitasnya masing-masing. Dengan kepentingan dan dengan jalan hidupnya masing-masing, unik. Namun terlepas dari semua itu, kita sebenarnya punya tujuan yang sama.

Ada yang berperan sebagai ibu rumah tangga, kepala keluarga, tulang punggung keluarga. Ada yang berjuang menyelesaikan tugas akhir. Ada yang baru memulai lagi setelah jatuh berkali-kali. Ada yang berhenti sejenak setelah jatuh bangun berjuang menghadapi realita kehidupan. Ada yang berpulang ke ‘dunia’ yang sesungguhnnya. Ada yang baru memulai kehidupan di dunia yang fana ini.  Kompleks, memang tapi itulah hidup.

Kita coba sedikit menyoroti pekerjaan yang sering dianggap sebelah mata oleh sebagian orang, yaitu seorang ibu rumah tangga. Perempuan yang memilih mendedikasikan waktu, tenaga, pikiran dan semua kehidupannya untuk keluarga tercinta. Dengan pekerjaan yang tak ada henti-hentinya, seharian penuh harus mengurus rumah, anak, suami dan semua yang berkaitan dengan rumah tangga ia lakukan. 

Tanpa sedikitpun mengeluh bahkan ia menikmati rutinitas yang terus terulang selama ia menjadi seorang istri dan ibu. Kalau dipikirkan, Betapa bosan dan kakunya, puluhan tahun mengerjakan rutinitas yang itu-itu saja.

Ternyata tidak sesedarhana itu. Ada hal yang membuat perasaan tak mungkin untuk dikerjakan menjadi mungkin. Ya, ikhlas. Keikhlasan  yang nampak dari  wajahnya menggambarkan kebahagian menjalani rutinitas yang sebagian orang –dan juga kita—tidak mungkin atau membosankan.

Lantas apa lagi rahasianya? Apakah ia digaji? Atau dijanjikan bermegah-megah rumah atau berpuluh-puluh hektar tanah? Mari sedikit kita lihat penggalan hadist berikut.

Menaati suami dan mengetahui hak-hak mereka (dapat menyamai jihad di jalan Allah), tetapi sedikit dari kalian yang melakukannya.” (HR Thabrani).

Berdecak kagum, begitulah kepercayaan ini menempatkan posisi perempuan pada derajat yang begitu tinggi. Dari kuatnya kepercayaan tersebut, maka akan bermuara pada keikhlasan hati dan kekuatan jiwa untuk melewati semua jalan panjang kehidupan ini.

Orientasi pada dunia saja tidak akan menyelamatkan kita pada akhirat. Bahkan dunia akan sangat terasa berat jika tidak berorientasi pada akhirat. Sebagaimana juga hadist Rasulullah SAW berikut ini:

“Barangsiapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan cerai beraikan urusannya, lalu Allah akan jadikan kefakiran selalu menghantuinya, dan rezeki duniawi tak akan datang kepadanya kecuali hanya sesuai yang ditakdirkan saja. Sedangkan, barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai puncak cita-citanya, maka Allah akan ringankan urusannya, lalu Allah isi hatinya dengan kecukupan dan rezeki duniawi mendatanginya padahal ia tak minta.” (HR. Al-Baihaqi dan Ibnu Hibban)

Komentar

Postingan Populer