Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Sebuah Fenomena Lama Yang Mulai Layu Namun Kembali Memekar.
Sebuah Fenomena Lama Yang Mulai LayuNamun Kembali Memekar.
Oleh : Surya Arafah
Kurang lebih pasca kepulangan tahun lalu, satu permasalahan dari ribuan bahkan jutaan banyaknya, kudapati di kampung halaman tercinta. Bukan hanya sekedar permasalahan, tetapi bisa saya katakan sebagai akar yang menjadi sebab munculnya permasalahan² besar dikemudian hari.
Fenomena yang sering saya sebut sebagai kebiasaan itu sebenarnya sudah sempat memudar 3-4 tahun terakhir, tetapi sayangnya ia kembali memunculkan diri ke permukaan. Pernikahanan masyarakat Bima bisa dikategorikan sebagai pernikahan yang cukup mewah oleh daerah² lain, banyak rangkaian acara disana. Mulai dari acara lamaran, akad sekaligus kapanca dan juga resepsi yang bahkan tidak sedikit dana yang terpakai.
Bersyukur sekali rasanya ketika saya dapati keluarga yang memiliki hajatan mengudang musik² yang sesuai dengan budaya ketimuran bangsa Indonesia (bangsa berketuhanan) pada acara pernikahan putra putrinya. Saya rasa itu lebih berfaedah dan tentu jauh dari ke sia-siaan. Namun ada rasa kekecewaan sekaligus prihatin yang mendalam ketika saya dapati kebanyakan keluarga di kampung halaman lebih suka mengundang group musik yang mendatangkan biduan-biduan dengan pakaian dan gerakan tubuh yang mungkin bisa dikatakan sangat tidak sopan bahkan tidak pantas untuk dipertontonkan.
Fenomena ini saya rasa perlu untuk dipandang serius, karena ketika kebiasaan² seperti ini terus dibudayakan dan dipertontonkan kepada generasi, maka akan berdampak negatif nantinya. Lantas apa yang menjadi tujuan pendidikan yang ditempuh oleh kita hari ini tiada lain dan tiada bukan yaitu untuk memanusiakan manusia. Saya sebagai anak bangsa yang terlahir di desa saya tercinta ini, sadar bahwa ini salah dan jika dibudayakan maka ia akan bermuara pada rusaknya moralitas anak bangsa. Maka perlu adanya cara atau terobosan untuk meminimalisir atau bahkan membunuhnya sampai ke akar-akar.
Kekuasaan dan kebijakan adalah cara yang efektif sebagai solusi, hadirnya sosok pemimpin yang religius dan pandai dalam melihat the real kondisi bangsa yang seharusnya mengisi ruang² kepemimpinan di desa sebagai bagian dari pembentuk moralitas anak bangsa. Kita sadar ketika kita ingin merubah sebuah sistem negara, ketika kita ingin mempengaruhi dan merubah banyak massa, ruang kepemimpinan adalah jawaban yang sangat tepat. Menempati Posisi paling strategis dan akan menjadi orang yang akan sangat di dengar suaranya.
Banyak pemimpin hebat dalam hal perpolitikan dan duniawi, tetapi tidak bisa melihat permasalahan secara komprehensif dan mencari akar permasalahannya. Pemimpin yang baik harus ia yang bisa menyeimbangi antara kedua aspek diatas. Untuk mendapatkan keseimbangan hidup yang tentu nantinya akan bermuara pada terwujudnya masyarakat yang adil, makmur, sentosa. Sebagaimana amanat konstitusi kita bersama.
Oleh karena itu, berawal dari keresahan pribadi dan mewakili suara² orang yang memiliki keresahan yang sama, saya atas nama pemuda desa sangat mengharapkan adanya kesadaran dan kebijakan dari pemerintah desa ketika terpilih nantinya untuk melihat dan mengatasi permasalah tersebut. Mari kita sama² bergandengan tangan untuk menjaga moralitas generasi dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar