Langsung ke konten utama

Unggulan

Manusia berlari beradu dengan waktu, ada yang sekedar bertahan karena enggan mati, ada yang sedang mencari makna hidup, ada yang sudah menemukan pencariannya, pun ada yang hidup hanya sekedar hidup. Di sudut salah satu kota, seorang gadis muda berusia 25 tahun sedang menata kembali hatinya, semenjak ditinggal pergi oleh sang pujaan hati, laki-laki yang ingin sekali ia baktikan seumur hidupnya. Bukan karena maut, tapi konon karena ketenangan yang tak kunjung laki-laki itu dapatkan dari gadis itu.  Lalu gadis itu berfikir dalam kesedihannya, bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun saling mengenal dan berjanji akan sehidup semati, baru sekarang ia berkata demikian?  Ia tersadar, siapa dia yang punya kuasa untuk menahan orang yang ingin pergi? ia tak punya kekuatan untuk meyakinkan orang yang memang enggan yakin dan ia tak punya kendali atas hati yang ingin berpaling. Lalu sekarang gadis itu kebingungan, masih menimbang-nimbang apa yang terjadi. Ia mencari tenang, ke berbagai tem...

PEREMPUAN DI RANAH PUBLIK

 PEREMPUAN DI RANAH PUBLIK

Oleh : Surya Arafah

saya teringat dengan slogan “perempuan adalah tiang negara, jika baik perempuannya maka baik pula negaranya, pun sebaliknya”.  Kalimatnya simpel tetapi penuh makna. Bisa di katakan “Perempuan menjadi Simbol Kekuatan Negara”, maka ya wajar saja, tidak ada habis-habisnya membahas perihal isu keperempuanan, mengapa?  karena perempuan adalah salah satu indikator “pembagunan negara”. So, bersyukurlah untuk kita wahai para perempuan, betapa “Istimewanya” kita diciptakan.


Lanjut yah, seperti yang telah saya tulis di awal, “Perempuan adalah Simbol Kekuatan Negara” dan “Perempuan itu Istimewa”, ada tugas di luar sana yang sangat menanti kehadiran kita. Terlalu egois rasanya ketika kita menikmati keistimewaan itu hanya untuk diri sendiri saja. Itulah alasan mengapa kita diciptakan sebagai manusia dan sebagai makhluk sosial.


Perempuan di ruang Publik menjadi salah satu fokus isu yang tak kalah menarik untuk di bahas, mengingat urgensi peran perempuan dan problematika perempuan dan umum yang hingga kini tak kunjung reda. Dan  apakah saat ini teman-teman merasa “Indonesia” sudah dalam keadaan yang baik-baik saja ?. Saya yakin, sebagian besar menjawab “belum”, karena faktanya masih banyaknya tindak kriminal, ketidakadilan yang tertuju pada perempuan.


Misalnya nih, Perempuan dipersilakan bekerja, tetapi upah buruh perempuan lebih rendah dari laki-laki. Hak-hak perempuan di dunia kerja juga belum dihargai sesuai fitrahnya misalnya tentang cuti melahirkan, pendidikan dan pengasuhan anak. Sering kali perempuan harus mengalami dilema antara bekerja di luar rumah atau mengurus anak. Ini baru salah satu dari ribuan masalah tentang perempuan yah.

Para tokoh pahlawan di kenang karena “ia melihat dan ia sadar adanya permasalahan-permasalahan yang terjadi kala itu, sehingga menuntutnya untuk berkontribusi secara tulus demi sebuah harapan dan impian yang menjadi landasan dasar semangat perubahan”.Tidak dapat di pungkiri, berkat perjuangan mereka yang “turut berperan di ranah publik” itu, membuat Indonesia bebas dari penjajahan kala itu. 

Tokoh-tokoh perempuan indonesia seperti Raden dewi sartikah, RA. Kartini, cut nyak dhien, Mereka aktif di Ruang Publik bukan hanya untuk kepentingan pribadinya saja, bukan karena ambisi jabatan, bukan karena ambisi harta belaka, bukan karena untuk sekedar eksistensi, dan lain sebagainya. Tetapi Mereka melihat dan mereka sadar, untuk apa mereka berperan, yaitu untuk Kesejahteraan Masyarakat Indonesia.


Komentar

Postingan Populer