Langsung ke konten utama

Unggulan

Manusia berlari beradu dengan waktu, ada yang sekedar bertahan karena enggan mati, ada yang sedang mencari makna hidup, ada yang sudah menemukan pencariannya, pun ada yang hidup hanya sekedar hidup. Di sudut salah satu kota, seorang gadis muda berusia 25 tahun sedang menata kembali hatinya, semenjak ditinggal pergi oleh sang pujaan hati, laki-laki yang ingin sekali ia baktikan seumur hidupnya. Bukan karena maut, tapi konon karena ketenangan yang tak kunjung laki-laki itu dapatkan dari gadis itu.  Lalu gadis itu berfikir dalam kesedihannya, bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun saling mengenal dan berjanji akan sehidup semati, baru sekarang ia berkata demikian?  Ia tersadar, siapa dia yang punya kuasa untuk menahan orang yang ingin pergi? ia tak punya kekuatan untuk meyakinkan orang yang memang enggan yakin dan ia tak punya kendali atas hati yang ingin berpaling. Lalu sekarang gadis itu kebingungan, masih menimbang-nimbang apa yang terjadi. Ia mencari tenang, ke berbagai tem...

Pekerjaan tersibuk di Dunia (Bigest job in the world)

 Pekerjaan tersibuk di Dunia (Bigest job in the world)

Oleh : Surya Arafah

Keluarga yang dikatakan sebagai elemen pembentuk masyarakat ini begitu besar dan hebat perannya. Dimana keluargaa merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang turut berkontribusi dalam membangun bangsa.

Ibarat sebuah kapal, ayah bertindak sebagai nahkoda yang akan menentukan ke Samudra manakah tujuan dari kapal ini, dia punya tanggung jawab besar dalam menentukan visi keluarga. Sedangkan ibu kita analogikan sebagai support sistem, peran ibu tidak hanya menjadi pendamping ayah, tetapi semua bagian dari kapal (keluarga) tidak terlepas dari peran ibu.

Berbicara perihal peran ibu, tentu akan sangat alot dan beribu-ribu halaman kertas yang akan habis terpakai untuk menggambarkannya. ibu ibarat nutrisi, vitamin, energi dan sumber semangat didalam struktur pohon keluarga. Perannya tak terganti dan begitu penting kehadiranya.

Tidak ada pekerjaan yang lebih mulia didunia ini melainkan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, mengurus anak, berbakti kepada suami dan bermanfaat pada masyarakat. Tidak ada pekerjaan yang terlampau sibuk didunia, melainkan pekerjaan menjadi ibu dan istri.

Setiap detik, menit, jam, hari yang terlewat dan habis karena mengurus keluarga adalah pahala yang tiada terkira. Saya teringat oleh salah satu hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh ibnu Hibban “jika seorang wanita melaksanakakan sholat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki”. Jadi adakah alasan lagi untuk tidak berbakti?

Saya heran dengan orang-orang yang berteriak sana sini dan mengaungkan kesetaraan gender, mereka ingin disetarakan dengan laki-laki. Bukankah kita diciptakan sesuai dengan porsinya masing-masing? Laki-laki dengan perannya mencari nafkah, dan perempuan mengurus rumah dan anak. Bisa dibayangkan jika semua perempuan didunia ini bekerja seperti laki-laki, pergi pagi dan pulang malam. Siapakah yang akan mengurus dan mendidik anak? Siapakah yang akan menjadi benteng dalam keluarga jika masalah itu hadir? 

Sejatinya tidak ada yang lebih baik yang menjadi madrasah pertama bagi anak selain ibunya sendiri. Tidak ada yang lebih baik yang menjadi tauladan anak masa kecilnya selain orang tua itu sendiri.

Bukan berarti disini saya mendiskreditkan perempuan yang bekerja diluar rumah, tidak sama sekali. Justru mereka punya nilai plus tersendiri ketika mereka bisa memaksimalkan pekerjaan domestik meraka dan berkontribusi di dunia publik. Why not?

Narasi kesetaraan gender hadir karena ada pandangan bahwa seolah-olah laki-laki itu adalah saingan perempuan. Tidak teman-teman, perempuan dan laki-laki tidak Allah ciptakan untuk saling menyaingi, kita diciptakan untuk saling melengkapi dan bergandengan tangan untuk berkontribusi bagi peradaban. 

Semoga bermanfaat;)

Komentar

Postingan Populer