Langsung ke konten utama

Unggulan

Manusia berlari beradu dengan waktu, ada yang sekedar bertahan karena enggan mati, ada yang sedang mencari makna hidup, ada yang sudah menemukan pencariannya, pun ada yang hidup hanya sekedar hidup. Di sudut salah satu kota, seorang gadis muda berusia 25 tahun sedang menata kembali hatinya, semenjak ditinggal pergi oleh sang pujaan hati, laki-laki yang ingin sekali ia baktikan seumur hidupnya. Bukan karena maut, tapi konon karena ketenangan yang tak kunjung laki-laki itu dapatkan dari gadis itu.  Lalu gadis itu berfikir dalam kesedihannya, bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun saling mengenal dan berjanji akan sehidup semati, baru sekarang ia berkata demikian?  Ia tersadar, siapa dia yang punya kuasa untuk menahan orang yang ingin pergi? ia tak punya kekuatan untuk meyakinkan orang yang memang enggan yakin dan ia tak punya kendali atas hati yang ingin berpaling. Lalu sekarang gadis itu kebingungan, masih menimbang-nimbang apa yang terjadi. Ia mencari tenang, ke berbagai tem...

Mengukir cerita indah ketika menjadi mahasiswa

 Mengukir cerita indah ketika menjadi mahasiswa

Oleh : Surya Arafah

Moment ketika menjadi seorang mahasiswa adalah moment emas yang tidak boleh berlalu begitu saja tanpa makna dan cerita indah yang tergores didalamnya. Diberikan kesempatan untuk mendapat gelar mahasiswa adalah anugerah yang patut untuk kita syukuri. Tepat usia produktif kita, usia muda yang dimana semangat sedang berkobar membara dalam jiwa.

Satu hal yang membedakan kaum muda dan kaum tua, yaitu semangatnya. Semangat yang kemudian mampu membawa perubahan nyata, dan sejarah sudah mencatat bahwasannya pada setiap gagasan, pada setiap perubahan pemuda selalu menjadi garda terdepan. Kitapun sekarang sedang dalam fase emas ini kawan, banyak hal yang bisa lakukan, banyak hal yang bisa kita ukir dimasaa ini untuk kemudian menjadi alasan kita tersenyum ketika senja nanti.

Saya sedikit merenung ketika melihat realita di masyarakat sekarang yang anak-anak mudanya minim kesadaran, mereka cenderung lebih banyak menghabiskan waktu berjam-jam didepan layar gawai nya dengan bermain games, tiktok dan lain sebagainya. Coba kita sedikit berkaca pada zaman rasulullah dulu, dimana para sahabat-sahabat beliau menjadi kholifah pada usia yang relatif muda. Ini menandakan bahwa usia muda mereka habiskan untuk hal-hal yang lebih krusial dari sekedar bersenang-senang untuk kepuasan pribadi. 

Namun tidak semua orang bernasib sama, kita punya jalan masing-masing yang tentu lewat jalan-jalan itu kita bisa berkontribusi untuk masyarakat. Point intinya disini adalah tentang kesadaran semata. Namun bersyukurlah dan coba jadikan moment ketika sedang menyandang status mahasiswa ini sebagai moment untuk menempa diri, moment untuk menambah relasi, pengalaman dan yang terpenting adalah membuka cakrawala berpikir kita tentang persolaan kehidupan yang begitu kompleks dari apa yang ada di kepala kita.

Organisasi menjadi jalan ninja ku untuk berproses lebih diluar ruang-ruang kelas, menjadi wadah naungan sejuk tetapi menantang, menuntut diri keluar dari zona nyaman. Terbentur, terbentur, terbentuk lalu terbentuk, yah begitulah kata-kata yang sering digaungkan oleh senior-senior organisatoris dan aktivis saya. Dan nyatanya begitu, tidak sedikitpun kita digaji, namun atas dasar keikhlasan, semangat belajar dan antusias bertemu dengan orang-orang hebat menjadi cambuk semangat yang menggelora dalam jiwa dan raga. Kapan lagi bisa ada ditengah orang-orang hebat bukan? Ada kesempatan, raih kesempatan itu.

Aku seorang perempuan yang sangat minim prestasi akademik, entah kenapa aku belum mendapatkan partner yang tepat untuk sama-sama berproses di bidang akademik, namun kecenderunganku lebih pada organisasi, ikut banyak kepanitian, bertemu banyak orang, menuangkan ide dan mengunjungi tempat-tempat baru adalah nilai tersendiri yang tak bisa dibayar dengan apapun. Asyik, yah seruuu dan sekaligus menegangkan. 

Entah mengapa ketertarikan akan dunia organisasi kampus sangat besar dalam diri ku, pernah ku mendengat statment salah satu sahabat karib ku dan mudah-mudahan berjodoh dengan ku, hehhe beliau menyatakan begini, sejatinya prestasi itu bukan hanya kita mengikuti puluhan olimpiade tingkat kabupaten sampai nasional kemudian menang dan kita dikatakan sebagai pemuda yang berprestasi, atau selalu menduduki juara kelas. Namun sejatinya prestasi adalah ketika kehadiran kita bisa memberikan kebermanfaatan. Datangnya kita bukan untuk menggenapkan atau perginya kita bukan untuk mengganjilkan semata, namun ada value yang kita bawa setiap kali mengunjungi wadah-wadah atau tempat-tempat kaki ini berpijak. 

Dari situ saya menyadari, bahwa sukses itu luas sekali maknanya. Dengan memperbaiki point of viuw kita mampu memandang dunia dengan kacamata yang lebih luas dan tentunya tetap wordviuw islam yang menjadi dasar. Ok back to topik, saya sepakat kita mahasiswa dikatakan sebagai penyembung lidah rakyat. Knp? Karena hanya mereka yang kadar idealismenya tidak diragukan lagi, walaupun sebenarnya masih banyak mahasiswa yang rela menggadaikan kemewahan terakhir yang ia punya karena pundi-pundi rupiah hasil sogokan dari aparatur negara. Naudzubillah, mari kita rawat idealisme kita kawan.

saya konsisten menulis pada semester 7, dimana sudah tidak ada mata kuliah dan hanya tinggal fokus skripsi. Dengan menulis saya tenang, saya menemukan rasa yang tidak bisa saya jelaskan dengan bersuara. Ditengah penak dan padatnya aktivitas dunia, berserah diri dan mendekatkan diri dengan yang maha pencipta menjadi jawaban utama, kemudian salah satunya juga dengan menulis. Menulis ibarat kita sedang bercerita, mengeluarkan semua apa yang ingin kita curahkan, dan media paling aman untuk menjaga rahasia, hehhe canda rahasia. doakan Semoga saya bisa terbitin buku pertama saya di bulan 12 ini yah.

Komentar

Postingan Populer