Langsung ke konten utama

Unggulan

Manusia berlari beradu dengan waktu, ada yang sekedar bertahan karena enggan mati, ada yang sedang mencari makna hidup, ada yang sudah menemukan pencariannya, pun ada yang hidup hanya sekedar hidup. Di sudut salah satu kota, seorang gadis muda berusia 25 tahun sedang menata kembali hatinya, semenjak ditinggal pergi oleh sang pujaan hati, laki-laki yang ingin sekali ia baktikan seumur hidupnya. Bukan karena maut, tapi konon karena ketenangan yang tak kunjung laki-laki itu dapatkan dari gadis itu.  Lalu gadis itu berfikir dalam kesedihannya, bagaimana mungkin setelah bertahun-tahun saling mengenal dan berjanji akan sehidup semati, baru sekarang ia berkata demikian?  Ia tersadar, siapa dia yang punya kuasa untuk menahan orang yang ingin pergi? ia tak punya kekuatan untuk meyakinkan orang yang memang enggan yakin dan ia tak punya kendali atas hati yang ingin berpaling. Lalu sekarang gadis itu kebingungan, masih menimbang-nimbang apa yang terjadi. Ia mencari tenang, ke berbagai tem...

Childfree

 konsep childfree akhir-akhir ini sedang hangat diperbincangkan di indonesia, diawali dengan statement salah satu youtuber sekaligus selebgram indonesia.  Saya coba melihat konsep ini dari pespektif atau dari kacamata saya sendiri sebagai seorang perempuan indonesia dan muslim. 

Tentu setiap orang punya keputusan dan pandangan hidup yang berbeda-beda, termasuk keputusan untuk tidak memiliki keturunan. Karena disebabkan beberapa faktor misalnya seperti faktor finansial, kesiapan mental, trauma masa kecil, budaya bahkan wordview seseorang. 

Namun menjadi sangat tidak apik ketika konsep childfree ini dikampanyekan lebih-lebih pada negara yang notabennya menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan budaya seperti di indonesia. 

Indonesia merupakan negara berketuhanan, disila pertama ideologi negara kita terdapat kalimat “ketuhanan yang maha esa” secara tidak langsung, ada tauhid di falsafah negara. Otomatis kita punya pegangan yang menjadi dasar kita untuk menjalani hidup ini, yaitu al-quran dan as-sunnah itu sendiri. 

Ketika kita melihat lebih jauh lagi, konsep ini lahir dari pandangan gerakan perempuan barat yang katanya memperjuangkan hak-hak perempuan itu sendiri. Namun gerakan ini memiliki cabang-cabang yang bahkan masih ada ketikselarasan pandangan dari internal gerakan ini sendiri. Gerakan yang saya maksud adalah feminisme. 

Berbicara masalah childfree tentu tidak akan jauh dari pembahasan feminisme itu sendiri, salah satu cabang feminisme yang menurut saya sangat merugikan kaum perempuan khususnya di indonesi adalah feminisme radikal. 

Feminisme radikal merupakan faham yang muncul sebagai reaksi banyaknya kekerasan seksual laki-laki atas perempuan. Tubuh perempuan merupakan objek utama penindasan kekuasaan laki-laki. Faham ini memperjuangkan hak-hak reproduksi, seksualitas, relasi kekuasaan laki-laki dan perempuan dsb.  

Menurut mereka kebebasan sejati perempuan hanya bisa diwujudkan apabila perempuan dapat mengontrol tubuhnya sendiri, my body is mine. Salah satu elemen penting patriarki adalah kontrol terhadap aktivitas seksual dan reproduksi dari tubuh.

Bagi kita sebagai perempuan indonesia dan seorang muslimah tentu tidak demikian menganggap semua yang melekat didiri kita ini adalah punya kita sendiri. Semuanya adalah amanah yang akan kita pertanggungjawabkan nanti dihadapannya.

Dalam konteks individual tidak ada seorangpun yang dapat membatasi aktifitas pikiran seseorang termasuk dalam hal pilihan akan hidupnya. Sah-sah saja ketika suatu individu memilih pilihanya sendiri, karena kita berhak untuk memilih, dan disetiap pilihan didampingi dengan konsekuensi dan tanggungjawabnya masing-masing. 

Hal yang ingin saya sampaikan pada tulisan saya kali ini adalah childfree adalah pilihan mereka, tetapi tidak untuk kita. Kita sama-sama paham tujuan pernikahan dalam islam adalah supaya kita saling mengasihi, merasa tenang, memiliki keturunan yang kelak akan memperjuangkan agama Allah diatas muka bumi ini dan masih banyak lagi.

Mengandung, melahirkan, menyusui dan mengasuh adalah nikmat yang Allah berikan kepada kaum istimewa yang bernama perempuan. Oleh karena itu perempuan sangat dimuliakan dalam islam. Setiap keringat yang menetes karena berbakti kepada suami dan mendidik generasi sebaik mungkin adalah ladang pahala yang sudah Allah janjikan kepada kaum perempuan.

Amanah besar yang Allah titipkan kepada kaum perempuan ketika menjadi seorang ibu. Tanamkan pada diri, bahwa kita ridho menjalankan peran ini, sehingga tidak ada lagi istilah anak kita nakal dan lain sebagainya, statement ini muncul  karena diri kita belum sepenuhnya ridho atas amanah baru yang kita jalankan. 

Dan sebaik-baiknya pendidik adalah Allah, tugas kita berdoa agar Allah kuatkan kita dalam membimbing, mendidik dan mengasuh anak-anak kita. Hidup perempuan indonesia.......

Komentar

Postingan Populer